Coba cermati kisah Nabi Sulaiman alaihis salam dengan semut. Allah subhanahu wa ta’ala mengabadikannya dalam Al-Qur’an.
وَحُشِرَ لِسُلَيۡمَٰنَ جُنُودُهُۥ مِنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ وَٱلطَّيۡرِ فَهُمۡ يُوزَعُونَ ١٧ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوۡاْ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمۡلِ قَالَتۡ نَمۡلَةٌ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمۡلُ ٱدۡخُلُواْ مَسَٰكِنَكُمۡ لَا يَحۡطِمَنَّكُمۡ سُلَيۡمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ ١٨
Dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia, dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, “Wahai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (an-Naml: 17—18)
Keajaiban semut cukup banyak, di antaranya adalah:
Semut adalah hewan yang suka menasihati untuk kemaslahatan bangsa semut.
Nasihat yang disampaikan oleh seekor semut pada ayat di atas didengar oleh semua kalangan semut.
Hal ini memiliki dua kemungkinan:
a. Suaranya didengar langsung oleh semut-semut lain di lembah tersebut. Ini berarti Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahkan pendengaran yang luar biasa kepada mereka. Ini adalah keajaiban yang sangat menakjubkan.
b. Suaranya didengar oleh sebagian semut yang ada di sekitarnya, lalu disampaikan kepada semut-semut lain hingga tersebar ke seluruh penjuru lembah. (Taisir al-Karim ar-Rahman, pada surah an-Naml: 17—18)
c. Semut memiliki sarang khusus untuk setiap jenis. Masing-masing tidak masuk ke sarang jenis semut yang lain. (Syifa’ul ‘Alil hlm. 168—169)
Ibnul Qayyim rahimahullah menuturkan bahwa
Semut adalah hewan yang paling giat dan rajin.
Semut menjadi contoh tentang perwujudan etos kerja yang tinggi.
Semut juga dikenal sebagai hewan yang sangat ekonomis, tidak suka menghambur-hamburkan apa yang dimilikinya.
Selain itu, semut juga dianugerahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala daya cium yang sangat tajam. Semut mampu mencium keberadaan makanannya dari jarak yang jauh.
Semut juga dikenal sebagai hewan yang suka bergotong-royong, berjiwa sosial yang tinggi, memperhatikan kepentingan umum, dan tidak egois. Tidak ada istilah “korupsi makanan untuk kepentingan pribadi”.
Hewan yang penyabar, pantang menyerah, dan panjang akal (cerdas).
Yang lebih menakjubkan, meskipun semut tidak memiliki pemimpin yang mengatur layaknya bangsa lebah, mereka memiliki sifat-sifat tersebut di atas. (Syifa’ul ‘Alil hlm. 168—171)
https://asysyariah.com/hidayah-umum-bagi-setiap-makhluk/

Posting Komentar